Oleh: Yuk Bisnis.Com | November 5, 2008

Ikut Arisan 500-Ribu, Tapi Gratis Iurannya

“IKUT ARISAN 500 RB, TAPI GRATIS IURANNYA,

DAPAT MODAL 4,5 JUTA & DAPAT LABA PULA PERBULAN”

Akibat minimnya modal usaha untuk menjalankan MY-FINANCE maka timbul ide ‘GILA’ untuk mendapatkan modal gratisan lagi. Maksudnya adalah “ Saya ikut arisan dengan iuran 500.000/bulan selama 10 bulan, tapi gratis iurannya, dapat modal usaha 4.500.000 untuk MY-FINANCE, dan dapat keuntungan dari usaha tsb”.

Caranya :

  1. Dengan mengumpulkan min 10 orang (tetangga) untuk diajak arisan sedangkan saya sebagai koordinatornya.
  2. Besarnya iuran perbulan adalah Rp 500.000,- sehingga sekali diundi setiap orang akan mendapatkan Rp 5.000.000,-
  3. Biasanya peserta arisan tidak mau kalo dapat uang arisan pertama karena gak mau merasa enak duluan tapi susah bayar arisannya belakangan, jadi sebaiknya dibuat ‘perjanjian tidak tertulis’ antar peserta arisan bahwa : siapa yang menjadi kordinator maka yang mendapatkan uang arisan pertama adalah saya.
  4. Karena yang dapat arisan pertama adalah saya, maka uang yang diterima adalah Rp 4.500.000 saja karena saya tidak perlu membayar iuran pertama.
  5. Kemudian uang yang diperoleh digunakan untuk modal usaha di MY-FINANCE, jadi untuk membayar arisan perbulannya menggunakan cicilan dari nasabah MY-FINANCE, kalo cicilan nasabah = 1/10 modal = Rp 450.000, sedangkan kekurangan iuran Rp 50.000 berasal dari keuntungan usaha di MY-FINANCE.
  6. Di MY-FINANCE uang tersebut digunakan untuk membeli barang-barang elektronik / furniture, dsb kemudian dijual secara kredit kepada nasabah. Sehingga setiap bulannya saya akan mendapatkan keuntungan dari selisih harga jual barang – harga belinya.

Gimana, nice bukan ???

Salam Entreprenuer….. Take Action… !


Zuhadi – Yuk-Bisnis.co.cc

HP : 0852 5069 4639

Iklan
Oleh: Yuk Bisnis.Com | Agustus 27, 2008

Belajar Membuat Proposal Bisnis

wirausahadotcom

Punya ide bisnis bagus untuk dikembangkan, namun tidak memiliki cukup modal untuk memulainya ? Salah satu jalan keluarnya adalah mencari pemodal atau investor yang bisa mendanai bisnis. Namun tentu saja membuat orang lain percaya dan tertarik untuk bekerjasama bukanlah hal yang mudah. Calon pebisnis perlu meyakinkan untuk tujuan tersebut.

Proposal bisnis bisa digunakan sebagai salah satu jalan untuk menarik investor. Pada intinya proposal bisnis merupakan penuangan segala pikiran pelaku bisnis tentang rencana bisnisnya ke depan. Lewat proposal bisnis juga calon pebisnis menyatakan tujuan, visi dan misi dari bisnis yang akan dijalankan. Harapannya tidak lain adalah, pemodal atau investor sepaham dengan tujuan, visi dan misi bisnis yang akan dijalankan, sehingga tergerak untuk mendanai bisnis.

Tapi tentu saja, membuat proposal bisnis yang baik dan menarik bukanlah hal yang mudah. Mau tidak mau calon pebisnis harus mempelajari terlebih dahulu teknik penulisan proposal yang baik dan benar serta menarik. Berguru pada yang pebisnis lain yang telah sukses, atau rajin membaca literatur tentang menyusun proposal bisnis bisa dijalankan. Banyak buku bacaan saat ini membahas topik tersebut.

Menyusun proposal yang baik, semestinya calon pebisnis menyesuaikan isinya dengan pembaca yang dituju (dalam hal ini investor). Dengan kata lain, calon pebisnis menguasai dengan baik kemudian memaparkan di dalam proposal tersebut tujuan penulisan. Untuk mencapai keinginan, mengetahui karakteristik calon investor yang dituju akan sangat membantu tercapainya tujuan pembuatan proposal.

Isi proposal bisnis disesuaikan dengan tujuan pembuatannya. Namun setidaknya ada beberapa hal yang tidak boleh terlupakan dalam membuat proposal. Diantaranya judul proposal, ringkasan proposal usaha, analisis pasar, aspek produksi, rencana pemasaran, dan rencana keuangan. Selain itu pada bagian khusus, bisa dijadikan bab lampiran, dimuat juga struktur organisasi atau manajemen, surat ijin usaha jika ada, dan gambar-gambar foto pendukung.

Semakin baik dan benar serta menarik susunan proposal, akan semakin besar kesempatan calon pebisnis bisa menggaet investor. Dan jika telah mahir membuat proposal bisnis, jalan untuk merentas kerjasama bisnis dengan berbagai pihak pun akan semakin terbuka. Karena menjaring investor hanyalah satu dari beberapa tujuan dibuatnya proposal bisnis. Selain untuk kepentingan menarik investor, proposal juga bisa digunakan untuk menarik pihak lain bekerjasama untuk kepentingan bisnis. (SH).

Oleh: Yuk Bisnis.Com | Agustus 16, 2008

Marketing a la Nabi

Muhammad Rasulullah, Nabi kita tercinta, adalah seorang saudagar ternama pada zamannya. Bahkan sejak usia muda, beliau dipandang sebagai sudagar sukses. Disadari atau tidak sukses tersebut tidak lepas dari aktivitas marketing yang diterapkannya –yang tak cuma ampuh tapi juga sesuai syariah dan, tentu saja, penuh ridlo dari Allah. Jika Anda tertarik menerapkannya, selain mendapat keuntungan, insyaallah bisnis Anda pun barokah. Inilah empat tips marketing a la Nabi:

1. Jujur adalah Brand
Saat berdagang Nabi Muhammad SAW muda dikenal dengan julukan Al Amin (yang terpercaya). Sikap ini tercermin saat dia berhubungan dengan customer maupun pemasoknya.

Nabi Muhammad SAW mengambil stok barang dari Khadijah, konglomerat kaya yang akhirnya menjadi istrinya. Dia sangat jujur terhadap Khadijah. Dia pun jujur kepada pelanggan. Saat memasarkan barangnya dia menjelaskan semua keunggulan dan kelemahan barang yang dijualnya. Bagi Rasulullah kejujuran adalah brand-nya.

2. Mencintai Customer
Dalam berdagang Rasulullah sangat mencintai customer seperti dia mencintai dirinya sendiri. Itu sebabnya dia melayani pelanggan dengan sepenuh hati. Bahkan, dia tak rela pelanggan tertipu saat membeli.

Sikap ini mengingatkan pada hadits yang beliau sampaikan, “Belum beriman seseorang sehingga dia mencintai saudaramu seperti mencintai dirimu sendiri.”


3. Penuhi Janji
Nabi sejak dulu selalu berusaha memenuhi janji-janjinya. Firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman penuhi janjimu.” (QS Al Maidah 3).

Dalam dunia pemasaran, ini berarti Rasulullah selalu memberikan value produknya seperti yang diiklankan atau dijanjikan. Dan untuk itu butuh upaya yang tidak kecil. Pernah suatu ketika Rasulullah marah saat ada pedagang mengurangi timbangan. Inilah kiat Nabi menjamin customer satisfaction (kepuasan pelanggan).

Di Indonesia mobil-mobil Toyota berjaya di pasar. Salah satu kiat pemasarannya adalah memberikan kepuasan pelanggan. Salah satu ukurannya adalah Call Centre Toyota dinobatkan sebagai call centre terbaik, mengalahkan Honda dan industri otomotif lainnya.

4. Segmentasi ala Nabi
Nabi pernah marah saat melihat pedagang menyembunyikan jagung basah di sela-sela jagung kering. Hal itu dengan Nabi, saat menjual barang dia selalu menunjukkan bahwa barang ini bagus karena ini, dan barang ini kurang bagus, tapi harganya murah.

Pelajaran dari kisah itu adalah bahwa Nabi selalu mengajarkan agar kita memberikan good value untuk barang yang dijual. Sekaligus Rasulullah mengajarkan segmentasi: barang bagus dijual dengan harga bagus dan barang dengan kualitas lebih rendah dijual dengan harga yang lebih rendah.

Dalam soal segmentasi ini, Yamaha Motor adalah salah satu perusahaan yang bisa dijadikan teladan. Dia menciptakan motor Yamaha Mio, dengan mesin ber-cc kecil, tapi otomatis, dan mudah penggunaannya untuk segmen pasar perempuan. Dialah pelopor industri motor yang membidiki segmen ini, segmen yang sebelumnya selalu dilupakan pesaing lain. Hasilnya, dengan Mio Yamaha menyodok Honda dan menjadi penjual nomor satu di Indonesia 2007 ini.

Oleh BHS

Niriah.com

Oleh: Yuk Bisnis.Com | Agustus 16, 2008

Praktek ‘BODOL’

“Salah satu jurus jitu yang disampaikan oleh Virus P’ Purdie Chandra (Jaya Setia Budi) adalah BODOL : Berani Optimis Duit Orang Lain”

Setelah mengikuti Seminar CARA ‘GILA’ JADI PENGUSAHA yang dilaksanakan di Hotel Bintang Sintuk, Bontang. Dan salah satu CARA yang disampaikan untuk menjadi pengusaha adalah BODOL tsb. Maka pola pikir saya tentang CARA menjadi pengusaha langsung berubah, sampai akhirnya saya praktekkan CARA tersebut :

  • Sebagai sumber ide saya melihat ada sebagian teman yang ingin membeli peralatan elektronik / furniture tapi mereka belum mempunyai uang yang cukup untuk membeli kontan.
  • Kedua saya juga melihat ada sebagian teman yang mempunyai uang/dana dan ingin mempunyai penghasilan tambahan sedangkan mereka belum tahu peluang usaha apa yang tepat untuk dijalankan.
  • Akhirnya saya dapat ide untuk mengatasi permasalahan mereka yaitu dengan mendirikan usaha mikro pembiayaan barang-barang konsumtif (Elektronik / Furniture, dll).
  • Maka lahirnya MY-FINANCE sebagai solusi mereka.
  • Dimana saya sebagai knowhow-nya sedangkan teman saya sebagai investornya, kerjasama kami tertuang dalam surat perjanjian kerjasama dengan sistem bagi hasil dari laba/margin per bulannya (40:60)

Akhirnya bahagia rasanya bisa menjadi solusi bagi teman-teman saya tersebut, terlebih lagi karena saya bisa mempraktekkan (Action) salah satu “Cara ‘Gila’ Jadi Pengusaha” -nya Pak Purdie C. dan tentunya tanpa modal saya bisa memperoleh keuntungan 40% dari laba MY-FINANCE.

GO…GO… Entreprenuer… Take Action…

Salam,

Zuhadi – YUK-Bisnis.co.cc

Oleh: Yuk Bisnis.Com | Agustus 9, 2008

5 POIN UTAMA KEKECEWAAN KARYAWAN

Seorang bos tidak mungkin disukai oleh semua karyawannya. Tetapi tidak berarti bahwa bos dapat berlaku semena-mena. Maka untuk meminimalisir kekecewaan karyawan pada si bos, seorang bos yang baik perlu mengetahui alasan-alasan umum mengapa seorang karyawan membenci bosnya, sehingga sang bos dapat memberikan respons yang cepat dan efektif.

1. Karyawan membutuhkan respek. Salah satu keluhan terbesar seorang karyawan tentang bosnya adalah kurangnya respek sang bos terhadapnya. Kebanyakan karyawan merasa si bos tidak menghargai privacy, kemampuan/keahlian serta kehidupan pribadi mereka. Oleh karenanya, sang bos harus berusaha memberikan respek pada setiap karyawannya. Patut diingat bahwa respek cenderung bersifat timbal balik. Dengan demikian, menunjukkan respek pada karyawan adalah suatu cara yang paling efektif untuk mendapatkan respek dan kesetiaan dari karyawan.

2. Karyawan tidak menyukai “micromanagers” dan “under managers”. Seorang bos yang buruk bertindak seperti orang tua yang cerewet. Seorang bos yang baik, di lain pihak, akan memperlakukan karyawannya seperti orang dewasa. Ini artinya memberikan ruang dan waktu bagi si karyawan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Intinya : Jika karyawan anda adalah karyawan yang bagus, jangan melakukan “micromanagement”. Biarkan mereka melakukan pekerjaannya. Akan tetapi berhati-hatilah agar tidak terjebak pada kebalikan dari “micromanagement” yaitu “under-management”. Karyawan yang “under managed” mendapatkan sedikit atau bahkan tanpa support dari bosnya, baik support material, emosional ataupun financial. Support yang tidak cukup ini juga akan menimbulkan kekecewaan dan rasa apatis dari si karyawan. Mereka akan berpikir : Jika bos saya acuh tak acuh, mengapa saya harus peduli ?

3. Karyawan tidak merasa mereka dibayar dengan baik. Memang jarang terdapat sebuah perusahaan dimana karyawannya merasa telah dibayar dengan baik. Mungkin ini adalah kecenderungan sifat manusia untuk merasa kurang dihargai. Meskipun begitu, seorang bos yang baik dapat meredam kekecewaan karyawan itu dengan menjelaskan sistim penggajian di perusahaan dan dengan menemukan cara lain untuk memberikan kompensasi bagi karyawan.

4. Karyawan cenderung tidak menyukai rapat sebagai suatu keharusan. Rapat adalah “necessary evil”. Untuk itu, perlu dibuat agar rapat menjadi lebih tidak menjengkelkan dengan merencanakan rapat secara seksama, menetapkan kerangka waktu yang ketat, membuat jelas tujuan dan rencana aksi, dan membuat suasana yang kondusif bagi karyawan untuk menyampaikan pendapatnya secara terbuka tanpa resiko “pembalasan”. Bahkan mungkin akan membantu bila pada saat-saat tertentu, dimintakan feedback dari karyawan tentang bagaimana membuat rapat menjadi lebih efektif.

5. Karyawan perlu merasa dihargai. Jika kreatifitas atau kerja keras tidak dihargai, karyawan – seperti orang lain juga – akan cenderung merasa kecewa. Rasa kecewa akan berkembang menjadi rasa apatis. Untuk itu, adalah hal yang penting bagi bos ataupun manager untuk menunjukkan bahwa mereka melihat dan menghargai kerja baik karyawan. Sedikit pujian memberikan efek yang besar. Bahkan pujian dengan kata-kata terkadang sama memuaskannya bagi karyawan, seperti halnya promosi atau kenaikan gaji. Yah tidak persis sama, ..hampir.

Sebagai kesimpulan, kebanyakan alasan seseorang karyawan kecewa atau bahkan membenci bosnya bukanlah karena sesuatu yang berhubungan dengan latar belakang, personality atau hal-hal lain yang di luar kontrol si bos. Akan tetapi kebanyakan – jika tidak semua – permasalahan dapat diselesaikan jika sang bos sadar akan hal-hal yang menimbulkan kekecewaan karyawan ini, dan mengambil langkah-langkah antisipasi. (www.infopeluangusaha.com)

Oleh: Yuk Bisnis.Com | Agustus 9, 2008

MENGAPA USAHA ANDA MEMBUTUHKAN WEBSITE ?

Mungkin anda berpikir bisnis anda masih terlalu kecil untuk membutuhkan sebuah website. Mungkin anda berpikir membuat website itu sulit dan memerlukan biaya yang besar, sedangkan hasilnya tidak sepadan. Bila anda berpikir demikian, sebaiknya anda merubah paradigma anda. Berikut saya kemukakan alasan-alasannya :

– Banyak prospek akan mencari anda secara on-line. Mereka akan mengetikkan informasi yang mereka butuhkan di search engine. Bila anda tidak mempunyai website, maka hanya website kompetitor anda sajalah yang akan muncul. Berarti anda telah kehilangan kesempatan untuk melakukan penjualan. Bagi banyak prospek, bisnis anda sama saja tidak eksis, bila tidak dapat ditemukan dengan search engine. Di jaman sekarang, tidak mempunyai website sama saja seperti tidak terdaftar di buku telepon.

– Mempunyai website hanya membutuhkan biaya yang murah sekali. Jaman dimana mempunyai website membutuhkan biaya yang besar telah lewat. Hanya dengan Rp 200.000,- per tahun, anda sudah dapat mempunyai domain berikut hosting website anda. Sedangkan untuk membuat websitenya, jika anda tidak mau mengeluarkan biaya tambahan, anda dapat membuatnya sendiri.

– Website adalah sarana advertising yang sangat baik. Apakah anda ingin mempromosikan produk atau jasa anda, website adalah cara yang sangat tepat untuk melakukannya. Advertising dengan cara lain membutuhkan biaya yang lebih besar, terutama bila anda ingin mentargetkan ke market yang spesifik, dan tidak ada jaminan mereka akan memberikan perhatian. Website adalah selayaknya brosur yang bebas untuk direproduksi, interaktif, dan dengan cepat dapat didistribusikan kepada mereka yang memang memerlukannya. Tidak ada media lain yang dapat menyaingi kemudahan penggunaan dan keefektifan sebuah website.

– Website menjangkau seluruh dunia. Di dunia web, tidak menjadi masalah apakah seseorang berada di sebelah anda atau berada di sisi dunia yang lain. Mereka akan melihat website anda sama seperti setiap orang lain, tanpa ada biaya tambahan baik pada mereka atau pada anda. Telepon atau surat membutuhkan biaya yang besar bila jaraknya jauh, tetapi website memungkinkan anda mengirimkan informasi ke mana saja tanpa usaha atau biaya tambahan. Anda dapat menjalin kontak dengan seseorang di suatu tempat, yang tidak pernah anda kunjungi dan tidak akan anda kunjungi. Website membuat bekerja secara global seperti bekerja lokal.

– Website dapat menghasilkan uang. Banyak uang beredar di web, dan tidak sulit untuk mendapatkan sebagian. Semakin lama usaha anda on-line, semakin besar bagian yang anda dapat. Jika anda punya barang untuk dijual, anda dapat menjualnya ke seluruh dunia, berkat adanya kartu kredit atau sistim pembayaran internet seperti egold, paypal, dll. Menjalankan bisnis secara on-line akan menghapus hampir semua biaya overhead anda.

– Website dapat menghemat waktu anda. Memberikan informasi memerlukan waktu, apakah itu lewat telepon, e-mail atau mengirimkan brosur. Website didesain untuk menghemat waktu anda. Prospek anda dapat melihat katalog produk tanpa perlu berbicara atau mengunjungi anda. Dengan website, informasi dapat ditulis satu kali, dan selanjutnya dapat diakses oleh prospek anda secara akurat dan terus-menerus.

Bila anda belum mempunyai website untuk usaha anda, sekaranglah saatnya untuk menggunakannya. Kami menyediakan panduan bagaimana membuat sebuah website secara professional. Silakan berkunjung ke http://www.resepbisnis.com/?id=erwin

Oleh: Yuk Bisnis.Com | Agustus 9, 2008

ASEP, Konglomerat Muda Dari Desa Cidahu

Usianya baru 29 tahun, tetapi Asep Sulaiman Sabanda, pemuda asal Desa Cidahu, Subang, Jawa Barat, telah mengimplementasikan filosofi tertinggi dalam dunia bisnis. Baginya, bisnis akan berkembang jika usaha itu dibangun dengan mengedepankan manfaat bagi sesama dan tidak terjebak dalam kapitalisme absolut.
Lelaki yang tak lulus kuliah ini tidak lagi memandang bisnis sebagai tujuan mencari keuntungan semata, tetapi lebih sebagai sebuah wadah pemberdayaan ekonomi. Apa yang dilakukannya tidak terlahir begitu saja, melainkan muncul dari pengalaman. Bisnis yang terlalu mengagungkan keuntungan tidak akan langgeng. Namun, ketika konsep itu diubah, yakni tak lagi menempatkan keuntungan sebagai tujuan utama dari bisnis, usahanya justru meroket dalam waktu cepat.

Bermula dari seseorang yang tidak memiliki apa-apa, hanya dalam waktu lima tahun, kini Asep mengelola grup usaha PT Santika Duta Nusantara dengan omzet mencapai ratusan miliar rupiah setahun. Total asetnya senilai Rp 60 miliar. Usahanya beragam, mulai dari agrobisnis (peternakan dan pertanian), kontraktor, perdagangan, dan jasa. Lokasi usahanya tersebar dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Bahkan, Asep juga telah mengepakkan sayap usahanya sampai Brunei Darussalam, plus usaha waralaba ayam goreng siap saji.

“Dalam kemitraan mengandung konsep berbagi dan berkembang bersama,” kata pria lulusan Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur, ini. Atas sepak terjangnya inilah, pada 30 November 2006, dia dinobatkan sebagai Young Entrepreneur of The Year 2006 oleh lembaga keuangan internasional terkemuka, Ernst & Young.

Titik balik

Drop out dari kuliah, Asep pun mulai berbisnis pada tahun 1998, saat krisis ekonomi melanda Indonesia. Mengikuti jejak ayahnya, Shobur Tadjudin, dia mencoba menjadi peternak plasma ayam pedaging di desa kelahirannya, Cidahu, Garut. Dia memulai dengan sekitar 10.000 bibit ayam. Satu setengah bulan kemudian ayamnya telah siap jual. Hasilnya, Asep untung Rp 10 juta.

Tergiur, Asep pun lalu meningkatkan jumlah produksi menjadi 60.000 ekor. Alih-alih meraup untung, Asep malah rugi Rp 80 juta. Ditekan untuk membayar utang plus rasa penasaran, usahanya dinaikkan, jumlah produksinya menjadi 80.000 ekor. Hasilnya, dia kembali rugi Rp 90 juta. “Jadilah saya seorang pemuda yang berutang Rp 170 juta hanya dalam tempo enam bulan,” kenangnya.

Kehidupannya pun menjadi gelap. Tak tahan ditagih debt collector, Asep pun kerap meninggalkan rumah. Beruntung ayahnya seorang yang bijak. Sang Ayah menyelamatkan Asep bukan dengan cara membayar utangnya, tetapi membukakan mata dan pikirannya.

Bersama ayahnya yang rela menjadi penjamin utangnya, Asep pun merestrukturisasi utang-utangnya. Inilah poin titik balik pertama dia dalam memandang bisnis. “Kesuksesan merupakan sinergi dari keinginan, kemampuan, mental, dan kesempatan. Saya mungkin telah memiliki keinginan, kemampuan, dan kesempatan. Tapi, mental, saya belum punya,” katanya.

Sukses, Asep pun menuju Mekkah menunaikan ibadah haji. Kepergiannya ke Tanah Suci inilah yang kelak akan menjadi poin titik balik keduanya dalam menggeluti bisnis. Sepulang dari Mekkah, Asep menyadari bahwa bisnis tidak seharusnya mementingkan keuntungan semata, tetapi juga bagaimana mengelola bisnis agar tidak rugi.

Kemitraan
Akhirnya, pada tahun 2001, Asep pun mengembangkan pola kemitraan dalam bisnisnya. Langkah pertamanya adalah mengajak masyarakat beternak ayam menjadi plasmanya. Dia memberikan modal berupa bibit ayam, pakan, dan obat kepada mereka yang berminat. Para plasma hanya diminta untuk menyediakan tempat, kandang ayam, dan tenaga kerja. Ketika ayam sudah besar, sebagai inti, Asep membelinya.

Awalnya, Asep menggandeng 20 orang plasma dengan total produksi 40.000 ekor. Asep juga masih memelihara ayam sendiri sebanyak 60.000 ekor. Agar tak gagal, Asep terjun langsung membina para plasmanya.

“Kemitraan akan menjadi pola usaha yang sangat ideal jika dibungkus dengan sistem yang bagus dan loyalitas,” katanya.

Tahun 2002, produksi plasmanya naik menjadi 150.000 ekor per siklus (1,5 bulan). Lalu berkembang lagi menjadi 800.000 ekor. Dengan pola itu Asep pun semakin percaya diri untuk melakukan ekspansi. Pada 2003, Asep mengajukan pinjaman Rp 350 juta ke sebuah bank pemerintah, tetapi ditolak.

Asep pun mencoba lagi ke bank pemerintah lainnya, yakni BNI. Di BNI, Asep dinilai sebagai debitor yang baik dan memiliki prospek usaha. Untuk itu, BNI mengucurkan kredit Rp 1 miliar.
“BNI tak hanya memberikan kredit, tetapi juga konsultasi manajemen,” ujarnya.

Dengan dukungan finansial dari BNI, bisnis ayam pedaging Asep makin maju. Tahun 2004, kapasitas produksinya mencapai 2,1 juta ekor per siklus, dengan jumlah plasma membengkak menjadi 600 orang. Pemuda desa yang berpikiran global ini terus mencari celah. Kini dia tengah merintis usaha kemitraan ayam pedaging di Brunei Darussalam. Negara tetangga ini juga menjadi sasaran ekspor pakan ternaknya.

Tak cukup pada bidang usaha peternakan, suami Vina Nuryanti ini pun merambah usaha pertanian. Kini ayah tiga anak ini tengah mengembangkan pola kemitraan inti-plasma untuk komoditas jagung di Blitar, Ponorogo, dan Kediri, Jawa Timur. Dia juga mengembangkan pola kemitraan untuk tanaman jati seluas 40 hektar di Subang.

Asep masih memiliki segudang rencana terkait kemitraan yang akan dilakukannya tahun 2007. Salah satunya adalah mengembangkan program kemitraan petani asuh karyawan.

“Untuk mewujudkan ini, saya mewajibkan karyawan menginvestasikan bonusnya setiap tahun dengan membeli sapi. Targetnya, dalam waktu lima tahun, karyawan bisa memiliki 20 ekor sapi. Karyawan juga diminta mencari warga miskin untuk mengasuh sapi-sapi tersebut. Sebanyak 20 ekor sapi bisa diurus oleh 8-10 orang. Ini juga merupakan salah satu upaya untuk memberdayakan masyarakat miskin,” tuturnya.
Disadur dari : http://www.kompas.com
Oleh : M Fajar Marta

Oleh: Yuk Bisnis.Com | Agustus 9, 2008

Jaya Setiabudi

Meski usia masih 35 tahun, namun sukses berbisnis telah diraih di genggamannya. Dengan kegigihan untuk berdiri di atas kaki sendiri, kegagalan-kegagalan yang dialaminya tak membuat ia bergeming untuk bertekad menjadi bos di perusahaan sendiri.

Siapa menyangka jika pemuda yang dulunya dikenal sebagai anak bandel temyata sekarang bisa menjadi seorang pengusaha sukses. Betapa tidak, ketika duduk di bangku SD, ia hampir dikeluarkan. Lalu semasa SMP pernah disumpahi oleh salah satu gurunya bahwa dirinya tidak mungkin menjadi orang sukses. Demikian halnya saat masuk STM, pria yang satu ini sering ”cabut” dari ruang kelas.

Namun, kini ia mampu membuktikan bahwa dirinya juga memiliki kemampuan lain yang lebih besar dari sekedar prestasi akademis. Hal ini tentu saja bukanlah keberuntungan, tapi kuatnya cita-cita dan dukungan orangtua.

Lebih baik kecil-kecil jadi BOZZ…

Meski belum mengetahui bagai­mana cara agar dirinya menjadi pengusaha. Namun, ia sudah bertekad untuk menjadi pengusaha. Dan ternyata cita-cita itu mendapat dukungan dari sang ayah, Untung Setiabudi. Pengalaman sang ayah bekerja di salah satu bank swasta dan perusahaan lain yang menimbulkan ketidakpuasan, membuat ayahnya memberi nasehat, Lebih baik kecil-kecil jadi bos, daripada gedhe-gedhe jadi kuli”. Pesan itulah yang memicu semangat bahwa dirinya mampu menjadi seorang entrepreneur.

Setelah berhasil menyelesaikan studi di salah satu institut swasta di Surabaya. Pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 27 April 1973 ini segera mencari tempat untuk menimba ilmu dunia usaha. Dipilihlah salah satu anak perusahaan Astra Group menjadi wadah baginya untuk mempelajari sirkulasi perdagangan. Bahkan dengan pede (percaya diri), saat tes wawancara berlangsung, Jaya Setiabudi menya­takan bahwa tujuannya bekerja adalah mencari ilmu karena ia ingin menjadi pengusaha. Posisi yang dipilih pun bukan engineer sesuai dengan studi yang ditempuh, namun technical buyer.

Tak peduli jam kerja telah usai dan di saat karyawan lain sedang tertidur pulas di rumahnya, sarjana elektro ini makin asyik bergelut dengan pekerjaannya. Tujuannya hanya satu yakni mempelajari dan memahami dengan benar konsep pekerjaan tersebut, salah satunya adalah purchasing order.

Meski pimpinannya tak pernah tahu dan ia tak pernah mendapat uang lembur, dirinya terus bekerja dari hari Senin sampai Minggu tanpa mempedulikan besarnya gaji yang diperoleh. Kondisi ini berlangsung hampir selama 1 tahun penuh tanpa libur. Setelah dirasa puas dengan ilmu yang didapat maka putra keenam dari tujuh bersaudara ini memutuskan untuk mengundurkan diri. Lalu dimulailah langkahnya untuk menjejakkan kaki di dunia usaha setelah 1 tahun 4 bulan bekerja. Awal bisnisnya dibuka tepatnya di bulan Agustus 1998.

Dengan uang 4,5 juta di tangan, Jaya bersama 2 orang rekannya, membuka Industrial Supply. ”Alhamdulillah 3 bulan bangkrut”, katanya. Karena kegagalan itu pula, Jaya mengalami masa-masa sulit. Bahkan untuk makan sehari-hari, ia hanya bisa membeli satu buah telur dari uang receh yang dulu pernah tidak disukainya. Tapi suami dari Liana ini tetap tegar dan tak takut untuk mencoba lagi terjun ke dunia bisnis.

Dengan minimnya modal, dirangkullah orang lain untuk bekerjasama. Hanya dengan modal kepercayaan, Jaya membuka usaha yang serupa untuk kedua kalinya. Dengan sistem pembayaran mundur kepada supplier, maka ia bisa mendapat kelonggaran terhadap kondisi keuangannya. Setelah sekian waktu, secara perlahan usaha itu mulai merangkak naik dan mulai menunjukkan hasil. Seperti pengusaha pemula lainnya, merasa ”tangannya sakti”, Jaya terlalu cepat berekspansi bisnis, membuka warung makan, desain grafis, distribusi additif (otomotif), yang akhirnya ditutup dengan kerugian yang besar. ”Itu semua uang sekolah saya”, katanya tanpa beban.

Di usia bisnisnya yang menginjak tahun kesepuluh, Momentum Grup, begitu sebutan grup bisnisnya, telah membawahi beberapa perusahaan yang semuanya profitable. Bidang usahanya antara lain, distributor untuk produk-produk hi-tech industry, supplier dan retail di bidang Food and beverage dengan bendera ‘The Farmer’, agen oli (di Jakarta) dan perusahaan training Entrepreneurship. Yang kesemuanya telah dikelola oleh tenaga-tenaga profesional, sehingga sejak 2 tahun terakhir ini, dirinya tidak pernah lagi mengantor. ”Kecuali Momentum Entrepreneur Mindset (yang membidani Ecamp dan YEA), semuanya saya tidak pegang lagi”, imbuhnya. Sebagian besar perusahaannya berlokasi di Batam, karena disanalah tempat yang potensial untuk arus perdagangan baik skala nasional maupun internasional. Setelah Batam, dipilihlah Jakarta sebagai tempat kedua bagi bisnisnya.

Meski sudah memiliki beberapa perusahaan yang omzetnya mencapai kisaran miliaran rupiah perbulan, namun total pegawai yang dipekerjakan hanya 20an orang. Menurut pria yang suka tidur dan nonton film ini, rahasianya terletak pada pemilihan bisnis yang memiliki diferensiasi yang kuat dan sistem yang handal.

We Create Partners…

Hal itu juga harus ditunjang de­ngan kepemimpinan yang baik dengan motto yangdipegang, ”We create partners not employees” (Kami menciptakan rekan kerja bukan para pekerja). Motto itu dilaksanakan dengan keberaniannya untuk berbagi saham perusahaan kepada para pegawainya dengan jumlah yang disesuaikan dengan kriteria tertentu seperti integritas, loyalitas, dan beberapa kriteria lain. Penerapan konsep tersebut membuat karyawannya ikut memiliki perusahaan yang dinaunginya. Hasilnya perusahaan itu terus maju dan makin berkembang. ”Saya memiliki partner-partner yang jauh lebih pandai dari saya dan bisa mengembangkan perusahaan lebih baik daripada saya sendiri”, ucapnya merendah.

Meski bisnisnya makin merambah ke berbagai bidang, tapi anehnya ayah dari Sarah Aulia Setiabudi dan Alfin Risqi Setiabudi ini tak pernah sibuk mengurusi bisnisnya. Sebab, ia mempercayakan bisnisnya kepada para direksi yang dijadikannya sebagai rekan. Jadi dirinya sangat leluasa untuk bercengkrama dengan keluarga. Saat ini, sebagian besar waktunya diabdikan untuk membagi ilmu tentang dunia bisnis, secara aktif dengan menjadi narasumber wirausaha sejak 3 tahun terakhir ini di beberapa radio di Batam, TV lokal dan Kolumnis di media masa, baik lokal maupun nasional. Disamping itu, Mentor terfavorit 2008 versi Entrepreneur University ini, memiliki kesibukan berbagi di lebih dari 30 kota se-Indonesia.

Rupanya pria yang tidak suka dengan urusan politik ini tak puas hanya menjadi pengasuh forum pengusaha. la juga ingin memiliki nilai tambah dari sekedar pengusaha. Dan dirinya menunjukkan bahwa ia juga mampu membuat konsep wirausaha berdasarkan perjalanan penemuannya sendiri. Konsep tersebut rencananya akan dirangkum dalam buku yang ditulisnya sendiri dan akan segera launching tahun ini, dengan judul The Power of Kepepet” dan ”MOMENTUM, The 5 Elements of Entrepreneurship”.

Sebagai entrepreneur, ia pun memiliki visi yang ingin digapainya. Pertama, ingin menciptakan sejuta pengusaha sukses. Dan yang kedua, bisa menjadi saluran rejeki bagi orang lain. Untuk mewujudkan visi tersebut, salah satu upaya yang dilakukan adalah membentuk Entrepreneur Association (EA). Tujuannya adalah menciptakan pengusaha Indonesia yang bermoral dan memiliki integritas. Asosiasi ini mampu mewadahi semua lapisan pengusaha untuk andil di dalamnya. Sistemnya melalui pengelompokan yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan yakni starting (pemula), growing (berkembang), dan expanding (meluas).

Meski saat ini ia telah meraih impiannya sebagai bos di perusahaan sendiri, namun Jaya tak lantas sombong dan puas dengan hasil yang diperolehnya. Ia mengakui bahwa masih banyak kekurangan yang ada pada dirinya. Untuk itu ia bersemboyan bahwa tak pernah ada kata untuk berhenti belajar. Dirinya terus belajar tentang berbagai hal antara lain leadership, pengembangan usaha, ataupun motivasi. Selain belajar dari para mentornya seperti Bob Sadino, Purdi E. Chandra, dan Andrie Wongso. Ia juga tak segan belajar dari teman-temannya tentang berbagai kasus yang mereka alami. Dari proses belajar yang tiada henti itu pula, ia masih ingin terus berkarya dalam dunia usaha. Buktinya, sekarang dirinya telah merencanakan untuk membuat perusahaan baru yang bergerak di bidang permodalan (Momentum Capital). Targetnya tahun ini perusahaan capital ini sudah mulai beroperasi dengan membeli saham perusahaan lain yang menguntungkan tapi memiliki keterbatasan dalam masalah modal.

Semua kerja keras dan kegigihan Jaya ternyata membuahkan kemapanan finansial yang tidak diperuntukkan bagi dirinya pribadi, tapi juga bagi keluarganya. Kendati demikian, kemapanan tersebut tak membuat dirinya lupa masa-masa sulit yang pernah dilaluinya, Saya tetap menikmati masa-masa susah waktu itu. Andaikan mengalami kegagalan lagi, saya yakin bisa bangkit kembali, ujarnya. Jangan kaget jika kesehariannya, pria yang mengendarai Mercedes ini, hanya mengenakan t-shirt, celana jins dan bersandal ria. ”Itulah seragam kebesaran saya. Malas Jaim-jaiman”, imbuhnya.

Jaya yakin bahwa perjalanannya di dunia bisnis masih belum menemukan terminal pemberhentian. Dan ke depan, dirinya masih ingin mewujudkan obsesi yang didambanya selama ini yakni menciptakan Entrepreneur Place yang kelak menjadi Pusat Study dan Pariwisata Entrepreneur terbesar sedunia.

Dikutip dari : http://www.yukbisnis.com

Oleh: Yuk Bisnis.Com | Juli 18, 2008

5 Langkah Kilat Menjadi Pengusaha

SIAPA BILANG JADI PENGUSAHA SUKAR ?

Sama halnya seperti berenang dan menyetir. Sekali kita bisa, kita tak akan lupa. Masalahnya banyak orang yang belum “tuntas” belajarnya, sudah berhenti dan berkata “Bisnis itu susah, resiko”. Berikut adalah 5 langkah kilat jadi pengusaha, yang sudah terbukti menghasilkan banyak pengusaha sukses. Tanpa banyak teori!

1. Hitung Untungnya Kebalik
Kenapa kebanyakan orang tidak memiliki keberanian memulai usaha? Survey membuktikan, mayoritas orang menghitung resiko-resiko jika mereka membuka usaha dan kerugian yang akan dialaminya. Mereka mendengarkan kabar angin tentang usaha sejenis milik kenalannya yang bangkrut. Ataupun mereka menghitung BEP (balik modal) yang terlalu lama. Anehnya semua analisa tersebut dibuat oleh mereka sendiri, dihitung sendiri dan ditakuti sendiri.
Seperti kawan saya yang akan membuka bengkel ganti oli, dia membuat perencanaan kerja. Tidak ada yang salah dengan perencanaan kerja lho, itu harus. Tapi, dalam perhitungannya dia menggunakan sistim perhitungan maju atau dari awal buka sampai brapa keuntungan yang akan didapat. Apakah anda seperti itu juga? Tidak salah juga. Ternyata setelah dihitung, dengan asumsi jumlah mobil yang ganti oli 20 perhari, tidak mencukupi untuk menutup operasional, seperti sewa tempat gaji, listrik dan sebagainya. Buntutnya, gak jadi usaha!


Coba kalo ngitungnya mundur, “Berapa untung yang anda inginkan?”. Kemudian disusul dengan, “Bagaimana supaya bisa untung segitu?”. Nah, dari situ kita mendapatkan langkah-langkahnya. Yuk, kita ambil contoh usaha bengkel tadi? Berapa tahun BEPnya jika anda hitung maju atau dari belakang? Ternyata 5 tahun. Kok lama ya? Knapa gak dibuat 5 bulan aja? Atau 5 minggu? bahkan 5 hari! Mana mungkin? Coba dibalik, “Bagaimana bisa mungkin?”. Jika kita selalu manghitung ruginya atau untungnya kelamaan, kita jadi tidak termotivasi untuk mulai.
Jadi dengan menghitung untungnya lebih cepat, kita akan semangat untuk mulai.


Tapi bagaimana jika tidak seperti yang kita perhitungkan? Maka, ciptakan target atau harapan baru. Toh, jika anda hitung ruginya, juga belum tentu tepat, benar gak? Trus, ngapain nakut-nakutin diri sendiri dengan kerugian?! Kecuali, usaha tersebut bukan usaha yang pertama, maka patut kita rencanakan dengan matang.


Jadi boleh gak mulai usaha dengan banyak menghitung ruginya? Boleh! Hitung ruginya, jika anda tidak mulai usaha secepatnya. Misalnya, gimana jika di PHK sebelum ada usaha? Gimana jika tidak dibuka usahanya, kemudian keburu dibuka orang lain? Gimana kalo ternyata usahanya booming, sedangkan kita gak jadi buka usaha karena banyak ngitung? Rugi kan?


Maka dari itu, jika mau jadi pengusaha, banyaklah berfikir optimis (tapi realistis), banyak hitung untungnya, jangan banyak hitung ruginya.


2. Ciptakan The Power of Kepepet
Beberapa orang sukses karena mereka punya visi yang sangat jelas, tapi lebih banyak orang sukses dari kepepet. Memang seperti itu hukumnya. Nenek-nenekpun bisa loncat pagar setinggi 3 meter saat kepepet.
Masih ingat saat-saat sekolah dulu? Kita kenal istilah SKS=sistem kebut semalam. Karena besok ujian, otak kita akan kita pacu lebih cerdas. Gimana aktualisasinya dalam bisnis? Anda bisa memberi Dp/uang muka tempat usaha anda kelak. Terima order juga membuat anda terpacu. Ceritakan ke banyak orang tentang usaha yang akan anda buka, beritahu tanggalnya! Sehingga setiap kali ketemu kawan anda, dia akan mengingatkan anda. Resign dari tempat kerja dan full time menjalankan usaha sendiri.


Daya ungkit kepepet berarti membakar jembatan terhadap segala sesuatu kemungkinan untuk mundur. Pokoknya Bagaimana Harus Mulai Usaha Secepatnya!


Target-Rencana-Jerumuskan

3. Mulai dari ATM
Pertanyaan yang paling sering dilontarkan oleh orang yang mau mulai usaha adalah “mulai dari mana?” Misalnya anda sudah memiliki ide usaha, membuka manicure&pedicure(m&p), salon perawatan kaki&kuku yang sekarang lagi tren. Dari mana anda mulai? Dari mana anda biasa berlangganan atau mana salon m&p yang paling terkenal?


Coba AMATI bagaimana mereka menjalankan bisnis. Anda bisa mulai dengan berpura-pura menjadi pelanggan, tanyakan segala macam perawatan yang mereka sediakan. Minta brosur jika ada. Jika memungkinkan, temuin yang punya, karena dialah yang paling tahu detailnya. Siapa saja pelanggan tetapnya? Berapa omsetnya satu bulan? Kenapa dia memutuskan membuka m&p, kok nggak bisnis yang lain? Tulis detail pengamatan anda, jangan hanya disimpan di memori otak. Cara yang lain untuk mendapatkan informasi dengan murah adalah lewat Internet/web. Anda tinggal masuk ke search engine seperti http://www.google.com atau http://www.yahoo.com. Sangat mudah sekali, cukup ketik subyek yg ingin anda cari, misal: manicure pedicure. Sekejap mata akan keluar list web yg berhubungan dengan m&p. Saya juga menggunakan cara yang sama untuk mendapatkan info bisnis.


Langkah selanjutnya adalah menyusun rencana bisnis untuk membuka yang m&p serupa. Bisa anda susun dari hasil survey anda, atau juga bisa ‘TIRU’ dari bisnis serupa yang di-franchise-kan, melalui web juga. Jika di hari gini masih bilang ‘gaptek’, ya jangan berharap bisa bertahan bisnisnya. Wong supir saya aja pun bisa main internet. Enaknya kalo bisnis, nyontek itu diijinkan asal tidak berhubungan dengan hak paten.


Langkah terakhir adalah memoles apa yang sudah ada. Menambahkan unsur differensiasi(perbedaan)nya, menambahkan keunggulan produk/servis kita dibanding salon lain. Differensiasi bisa di produknya, misalnya dengan memberi kualitas yang lebih baik, harga terjangkau. Atau di servisnya yang ditambah, misal ada gratis poles kuku 1 kali. Bisa juga di atmosphere(suasananya), dengan menampilkan interior dan seragam yang khas keraton, seolah-olah seperti ‘ratu’ yang sedang dirawat, lengkap dengan aroma terapinya. Gimana kalo udah ada yang melakukan itu? Tinggal tergantung dari kreatifitas kita aja. Kalo yang lain pake baju keraton, tempat kita pake baju Jepang, interiornya juga khas Jepang. So simple! Modifikasi juga bisa dilakukan sambil berjalan. Tidak perlu sempurna saat memulai, tapi menyempurnakan setelah dimulai.

What next? Tinggal dibuka saja usahanya. Sebaik-baik rencana, adalah yang dijalankan, bukan cuman teori. Seperti seorang kawan yang bertanya, “Bagusan mana buka bisnis A atau B?” Saya jawab,”Bagus yang cepat dibuka, bukan cuman ditanyakan!” Kalo anda bimbang memilih bisnis yang cocok, tulis aja di kertas kecil, satu-persatu ide usaha anda. Kemudian gulung & masukan ke kaleng, kocok dan ambil seperti narik arisan. Yang ditarik itu yang cocok untuk anda. Daripada mati penasaran karena tidak pernah mulai, mendingan mulai walau terjatuh. Setidaknya kita belajar sesuatu. Betul apa betul?


4. Pakai Dongkrak
Masih ingat cerita David(Nabi Daud)&Goliath? Dimana David menggunakan katapel untuk menyerang raksasa Goliath. Atau contoh lain, saat ban mobil anda bocor. Anda menggunakan dongkrak untuk mengangkat mobil yang ratusan kilo beratnya. Jika kita menggunakan tenaga kita saja untuk mengangkat mobil, jelas hal yang mustahil. Jadi fungsi dongkrak adalah membuat sesuatu yang berat jadi ringan, sesuatu yang tidak mungkin jadi mungkin. Begitu juga dalam bisnis, kalo mau berkembang cepat, ya pake dongkrak. Misalnya, bagaimana cara menjual donat 10000 buah perhari? Jika kita menjual seorang diri dan hanya mengandalkan orang datang membeli, ya mustahil. Tapi jika kita membentuk armada penjualan, ya jelas memungkinkan terjual.


Dongkrak atau daya ungkit dalam bisnis banyak macamnya. Tapi yang sering kita pakai adalah daya ungkit JARINGAN, daya ungkit UANG orang lain dan daya ungkit MINDSET. Jaringan, bisa berarti karyawan atau jaringan didalam perusahaan kita, bisa juga relasi bisnis. Semakin banyak tim (yang bisa diandalkan), semakin ringanlah tugas kita. Semakin banyak relasi bisnis kita, maka akan semakin cepat bisnis kita berkembang. Kok bisa? Bayangkan seandainya anda membuka usaha kontraktor di suatu kota yang sama sekali baru bagi anda. Tidak ada orang yang anda kenal. Semuanya mulai dari nol. How? Apakah usaha anda akan berkembang pesat? Sukar! Karena langkah pertama, anda harus mencari kenalan dulu (membentuk jaringan). Tapi bagaimana jika anda mengenal (dan dipercaya) oleh 10.000 orang di kota itu? Pasti lebih mudah dan cepat bagi bisnis anda untuk berkembang. Ilustrasinya, peluang itu selalu ada, tapi tidak selalu ditangan kita. Seringkali, peluang terpegang oleh tangan orang lain yang mengenal kita. Mungkin orang itu tidak membutuhkan peluang itu, tapi dia bisa mereferensikan peluang itu masuk ke kantong kita.


Tentu saja semuanya dimulai dari ‘Rekening Kehidupan’ yang kita tanam. Seberapa banyak bibit manfaat yang telah kita sebarkan ke orang lain tanpa pamrih. Sebanyak itulah jaringan kita yang bisa diandalkan.
Daya ungkit Uang orang lain sangat berguna untuk membesarkan usaha kita. Seringkali kita kepentok masalah modal, saat bisnis kita berkembang. Sebenarnya itu tanda-tanda kehidupan bisnis kita. Semua bisnis akan mengalami fase-fase seperti itu, kalo perkembangannya cepat. Masalahnya, kita masih berfikir bahwa bisnis harus pakai uang sendiri atau pemerintah.
Ntah kenapa pemerintah selalu kena getahnya saat bisnis kita memerlukan modal. Wong pada saat membuka, pemerintah juga gak maksa. Mungkin jiwa kemandirian atau entrepreneurship itulah yang belum tertanam di bangsa ini. Kenapa tidak menggunakan duit (kerjasama) saudara, mertua, teman ataupun Bank. “Wah, susah pak pinjam di Bank, prosedurnya berbelit! Teman dan saudara juga paling gak mau.” Nah, inilah gunanya daya ungkit yang ketiga, MINDSET ! Jika kita berfikir bisa atau tidak bisa, maka kedua-duanya benar. Jadi mana yang akan kita ‘set’ di otak kita? Selalu berfikir Bisa atau Tidak bisa?


5. Ngeyel dengan Strategi
Inilah jurus PAMUNGKAS dalam dunia usaha. Seperti seorang anak kecil yang belajar berjalan. Dimulai dari merangkak, dia berusaha meniru bagaimana ibu bapanya bisa berdiri, diapun belajar berdiri. Kadang kakinya yang belum ‘terbiasa’ dilatih untuk terbiasa berdiri. Setelah bisa berdiri, selangkah demi selangkah, si anak mulai belajar berjalan. Apakah langsung lancar? Impossible, kecuali bayi ajaib. Nah, apa yang terjadi? Dia mulai terjatuh, tapi dia bangun lagi. Jatuh lagi, bangun lagi. Pertanyaan saya, “Sampai berapa kali seorang ibu/bapak akan memberi kesempatan kepada si anak untuk belajar berjalan, sampai akhirnya menyerah?
5kali, 10kali, 100kali, 1000kali, atau…..? Pasti semua menjawab,”SAMPAI BISA BERJALAN”. Oleh sebab itu kita bisa melihat semua orang normal berjalan di muka bumi ini. Inilah FORMULA AJAIB untuk sukses.


Sekarang, “Berapa kali anda akan memberikan kesempatan kepada diri anda untuk menjadi PENGUSAHA SUKSES, sehingga akhirnya anda menyerah?!”. Dengan analogi yang sama, tentu saja SAMPAI BISA SUKSES! Tentu saja bukan sekedar ‘Ngeyel buta’, tapi NGEYEL dengan strategi. Tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ubah metodenya jika gagal. Cari jalan lain, lurus buntu, belok kanan, belok kiri, loncat keatas, buat terowongan, bahkan jika sudah mentok, ganti usahanya, untuk mengembalikan momentum.


Rejeki adalah suatu misteri, kadang kita mendapatkan di langkah ke 10, kadang kita baru mendapatkan di langkah ke 100. Trus, bagaimana kita mensikapi agar tidak down mental kita? Tetap OPTIMIS, ciptakan harapan-harapan baru, setiap kali kita gagal. Katakan pada diri anda, kurang 10 langkah lagi FINISH. Katakan seperti itu, setiap kali anda akan menyerah. Fokus ke Impian anda, bukan penolakan atau kegagalan! Dan camkan bahwa:
Tidak ada kegagalan, yang ada hanyalah PEMBELAJARAN

Pasti ada celahnya dalam bisnis. Jika seorang pebisnis tidak memiliki masalah, artinya bisnisnya tidak jalan. Masalah bukan untuk ditakuti, tapi dihadapi. Saya teringat saat-saat saya dalam kondisi minus, saya katakan kepada diri saya, “Jaya, inilah HARGA yang harus kamu bayar untuk menjadi sukses. Jalan terus, tatap ke depan, kesuksesanmu sudah didepan mata. Semua orang sukses mengalami hal yang serupa!” Sambil mengingat orang-orang yang saya cintai. NEVER, NEVER, NEVER GIVE UP!

FIGHT!
Jaya SetiabudiAlamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
<!–
document.write( ‘</’ );
document.write( ‘span>’ );
//–>

Hp : 0819 818 919

Kategori